Atrazin, satu dari jenis pestisida yang kerap digunakan di dunia, mengubah jenis kelamin kodok saat dewasa. Satu dari sepuluh kodok jantan berubah menjadi betina berdasarkan penelitian oleh ahli biologi University of California, Berkeley.

http://image.tempointeraktif.com/?id=27593&width=274

Sebanyak 75 persen dari pestisida jenis Atrazin ini menghasilkan kematian penting pada kemampuan bereproduksi di alam liar. Profesor UC Berkeley, Tyrone B. Hayes, menyatakan kodok jantan kehilangan hormon dan semua fungsi kontrol pada testesterone.

“Termasuk sperma. Jadi kemampuan mereka bereproduksi turun sepuluh persen, dan itupun hanya bisa bereproduksi jika terus-menerus diisolasi bersama kodok betina,’ kata Hayes.”dalam lingkungan dimana mereka tinggal bersama hewan sejenisnya, mereka tak punya kesempatan bereproduksi.”

http://greenproductlist.info/wp-content/uploads/2009/05/herrmaphrodite-frog_atrazine.jpg

Sepuluh persen lebih dari kodok itu berubah dari jantan menjadi betina. Selama ini kondisi ini banyak dianggap sebagai kondisi alam hewan amphibi. Dimana mereka memiliki gen mereka yang memungkinkan bisa bereproduksi sesama pejantan.

“Ketika pejantan beranjak dewasa, tergantung dari keluarga, kami mendapatkan dimana-mana 10 sampai 50 persen kodok adalah betina,” kata Hayes. “Dalam populasi, gen jantan betina dapat dikurangi oleh kondisi populasi.”

http://www.bugspray.com/pictures/products/954208.jpg

Dari penelitian di laboratorium kodok, the African clawed frog (Xenopus laevis), studi lapangan mengindikasikan atrazine bisa jadi sebagai salah satu perubahan gen aphibi. Hasil temuan Hayes ini akan dipublikasikan pada journal Proceedings of the National Academy of Sciences pekan ini.

Sekitar 80 juta pound herbicida atrazine digunakan dalam proses pembersihan ladang di Amerika Serikat. Sejumlah penelitian sudah menunjukkan atrazine mempengaruhi kemampuan hormon perkembangbiakan sejumlah binatang, seperti ikan, aphibi, burung, dan reptil.

Sebelum melakukan serangan ke tubuh manusia bakteri akan melakukan percakapan dulu. Sekumpulan organisme kecil akan ngobrol terlebih dahulu menentukan target yang akan dimasukinya di luar atau dalam tubuh manusia.

http://nasyidmadany.files.wordpress.com/2010/04/bakteri1.jpg
Bakteri memiliki percakapan seperti bisik-bisik untuk menghitung jumlahnya sebelum mencoba melakukan serangan terhadap organisme tuan rumahnya. Mikroorganisme ini bisa berada di kulit atau dalam organ tubuh lainnya.
“Jika bakteri bekerja secara individu, maka dampak terhadap lingkungannya akan kecil. Karenanya bakteri selalu membentuk koloni sehingga bisa menimbulkan dampak tersendiri bagi tubuh,” ujar Bonnie Bassler, seorang profesor biologi molekuler dari Princeton University, seperti dikutip dari LiveScience,
Bakteri berkomunikasi dengan menggunakan bahan kimia, yaitu melepaskan molekul kecil ke dalam media di sekitarnya yang dapat dideteksi melalui reseptor pada permukaan sel bakteri lainnya.
http://www.bioquest.org/bedrock/problem_spaces/enolase/assets/Soil-Bacteria.jpg

Ketika sejumlah sinyal molekul ini tercapai, maka masing-masing individu dari bakteri ini sudah mengetahui bahwa teman-teman didekatnya sudah memulai suatu tindakan. Proses ini dikenal sebagai penginderaan quorum.

Penginderaan quorum ini digunakan oleh bakteri virulen (bakteri jahat) untuk menginfeksi inangnya, misalnya bakteri Vibrio cholerae,– yang menyebabkan penyakit kolera–, mengandalkan penginderaan quorum untuk mengkoordinasikan penyerangan ke tubuh inangnya. Selain itu komunikasi ini juga dilakukan mikroba lainnya untuk tindakan terkoordinasi yang lebih ramah.
Jenis penginderaan quorum yang dilakukan tiap bakteri kadang berbeda-beda, misalnya bakteri Vibrio fischeri menggunakan alat komunikasi berupa cahaya yang bisa dihasilkan oleh tubuhnya sendiri. Jika jumlahnya sudah memadai, maka bakteri ini akan berkumpul untuk membuat cahaya yang lebih terang.
http://www.amazingpretty.com/wp-content/uploads/2010/04/Uranium-waste-bacteria01.jpg
“Dengan mengetahui bagaimana bakteri ini berkomunikasi, maka bisa membantu para ilmuwan untuk merancang jenis antibiotik baru. Obat-obatan ini diharapkan bisa menghalangi pelepasan sinyal molekul sehingga menghambat kemampuan bakteri untuk berbicara atau mendengar,” ungkap Bassler.

Dengan cara ini bakteri tidak akan pernah tahu apakah jumlahnya sudah cukup atau belum untuk melepaskan racun, sehingga infeksi bisa dihindari.